Langsung ke konten utama

CITA-CITA


Ada cerita tentang cita-cita

Aku lelah..
Menulis surat lamaran berulang kali untuk sekedar mencari makan
Membagikan lembar riwayat hidup ke banyak perusahaan tetapi tak kunjung ada jawaban
Aku seperti debu yang terbawa angin
Kesana-kemari tanpa arah dan tujuan yang pasti

Aku sedih..
Belajar bertahun-tahun tetapi seolah tidak berarti
Rasanya ingin kembali ke masa sekolah dulu
Hanya mengerjakan tugas, tanpa pusing cara mencari uang
Ya inilah aku pengangguran..

Bu guru..Pak guru..
Bodohkah aku saat sekolah dulu?
Aku dan pikiranku bertanya-tanya
Bagaimana tentang cita-cita yang dulu pernah kalian tanyakan

Maafkan aku ayah dan ibu..
Belum bisa mandiri dan masih bergantung pada kiriman
Sesungguhnya tahukah kalian betapa malunya aku..
Maafkan bila dulu pernah meremehkan ungkapan betapa susahnya orang tua cari uang
Tuhan..
Mengapa aku seakan tidak dinginkan?
Seleksi demi seleksi berlalu
Haruskah aku bertahan?
Terus mencoba hingga aku lupa ini lamaran ke berapa

Ada cerita tentang cita-cita
Bukan lagi tentang profesi
Tapi tentang keyakinan diri
Percaya bahwa aku mampu untuk melewati hari-hari

Ada cerita tentang cita-cita
Sudah bukan tentang ambisi
Tapi tentang dompet yang perlu diisi
Sepaket juga dengan gengsi


*terinspirasi dari kisah teman-teman yang sedang berjuang mencari pekerjaan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mama

Mama..  Aku ingin kita bisa kembali seperti dulu..  Berbincang, bercanda, menghabiskan waktu bersama untuk bersenang-senang Sebentar, aku ingat lagi kenangan kita dulu..  Saat Mama menyetir mobil, lalu tiba-tiba memegang tanganku Mama bilang " Yaya, I love you" Kita suka sekali makan makanan enak Tidak ada kata diet bila bersama Mama..  Bagi Mama, aku cantik apa adanya Tanpa syarat apapun..  Mama..  Ada suatu pagi, Mama bertanya padaku "Kamu tadi malam nangis ya? "  Mama begitu memperhatikanku yang sedih karena urusan pekerjaan Aku berusaha menjaga keluargaku Mencoba mengatur segala sesuatunya agar cukup, tidak kekurangan..  Hingga di suatu subuh saat selesai memasak, tanganku terluka hingga darah mengucur cukup banyak Aku masih ingat, Mama saat itu panik sekali..  Padahal aku sudah dewasa, tapi masih seperti anak kecil saat terluka..  Mama..  Ternyata Tuhan bukan memberikanku seorang ibu..  Tuhan mengirimkanku seorang Malaikat...

Tidak Sanggup

Tuhan Yesus... Hatiku sedang sakit Apakah Engkau melihat senyum anehku? Tidak sama lagi seperti dulu Tuhan Yesusku yang baik, Mengapa aku harus mengalami penderitaan ini? Masih belum cukupkah luka yang telah kulewati sebelumnya? Engkau mengenalku sejak aku masih kecil.. Engkau bersama-sama denganku menghadapi hidupku yang berliku Betapa kerasnya dunia menghajarku pun Kau tahu Bila memang ini yang harus kualami, Tetaplah bersamaku Tuhan Yesus.. Aku tidak akan sanggup berjalan sendiri Kurasakan jantungku pun ingin meledak Tolong aku Tuhanku.. Aku tidak mampu Kali ini aku benar-benar tidak sanggup

Kehilangan

Hari Minggu, satu Mei dua ribu dua puluh dua Mimpi buruk itu tiba Tanpa diduga menyerang tanpa aku sangka Mamaku hilang.. Lenyap seperti ditelan bumi Tanpa pesan, tanpa pamit Seperti ditusuk pisau tajam Hatiku terasa teriris perih Sekuat tenaga kucoba berdiri dan mencari Otak kupaksa tetap berpikir jernih Hatiku berkata, Tuhan Yesus di mana Mamaku.. Tolong.. Sebelumnya rasa kehilangan tidak pernah sesakit ini Baru pertama kali kurasakan, kehilangan seperti kematian Yang kupertanyakan, mengapa kami? Misteri yang setiap harinya kupertanyakan Bagaimana bisa? Mamaku yang kucinta, yang juga sangat mencintaiku Menghilang tanpa saksi   Semesta, apakah salahku? Sungguh hanya permohonan maaf yang bisa kuberi Aku sangat merindukan Mamaku Dalam tidurpun aku merindukannya Bagaimana cara agar aku bisa mengungkap kepergiannya? Dia yang merupakan pendoa utama dalam hidupku Dia yang adalah alasan mengapa aku bisa bertahan hingga kini Semesta, b...